Laporan Mikrobiologi - Mikrobiologi Pangan dan Lingkungan


BAB I
PENDAHULUAN


1.1             Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari – hari kita selalu berhubungan dengan berbagai macam bakteri, bakteri dapat tumbuh subur pada media yang mengandung nutrisi yang sesuai bagi perkembangannya. Namun pertumbuhannya dapat terhambat oleh adanya zat antiseptik atau desinfektan.

Zat antibiotik adalah zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme, yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain, bahkan dapat memusnahkannnya. Zat desinfektan adalah suatu senyawa kimia yang dapat menekan pertumbuhan mikroorganisme pada permukaan benda mati, seperti meja, lantai, toilet, dan lain – lain. Faktor yang mempengaruhi aktivitas antimikroba antara lain adalah pH lingkungan, komponen – komponen medium, takaran inokulum, lamanya inkubasi dan aktivitas metabolisme organisme.

Antimikroba adalah senyawa yang dapat menghambat atau membunuh mikroorganisme hidup. Senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri disebut bakteriostatik dan yang membunuh bakteri disebut bakteriosida.

Kemampuan mikroorganisme untuk tumbuh dan tetap hidup merupakan hal penting. Suatu pengetahuan dan pengertin tentang faktor – faktor yang memperngaruhi kemampuan tersebut sangat penting untuk mengendalikan hubunga antara mikroorganisme – mikroorganisme dengan manusia, pertumbuhan mikroorganisme dipengaruhi oleh faktor – faktor biotik dan abiotik. Faktor biotik terdiri dari makhluk – makhluk hidup, sedang faktor abiotik terdiri dari faktor – faktor alam (fisika) dan faktor – faktor kimia. Dari faktor – faktor tersebut ada yang bersifat mendukung maupun menghambat pertumbuhan mikroorganisme tersebut.

Oleh karena itu, dilakukan percobaan ini agar praktikan dapat mengetahui bahan – bahan apa saja yang memiliki daya hambat terhadap bakteri yang paling baik.

1.2             Tujuan Percobaan

a.       Mengetahui indeks daya hambat dari masing – masing bahan.
b.      Mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi diameter zona bening.
c.       Mengetahui perbedaan bakteriostatik dan bakteriosida.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1             Mikroorganisme

Mikroorganisme dapat menyebabkan banyak bahaya dan kerusakan. Hal itu Nampak dari kemampuannya menginfeksi manusia, hewan serta tanaman menimbulkan penyakit yang berkisar dari infeksi ringan sampai kepada kematian. Mikroorganisme pun dapat mencemari lingkungan dan dengan menimbulkan perubahan. Perubahan – perubahan kimiawi didalamnya, membuat makanan tersebut tidak dapat dimakan atau bahkan beracun. Kerusakan yang ditimbulkan juga dapat terjadi pada berbagai bahan seperti kain (tekstil), kulit, struktur berkayu seperti pilar jembatan dan rumah – rumah berkayu, insulasi listrik yang terbuat dari plastic serta bahan – bahan organik lainnya bahkan dapat pula bahan bakat jet. Kerugian ekonomi yang diakibatkan dapat sangat besar, karena itu adanya prosedur untuk mngendalikan pertumbuhan dan terkontaminasi oleh mikroba merupakan suatu penerusan. Yang dimaksud dengan pengendalian disini, segala kegiatan yang bisa menghambat, membasmi atau menyingkirkan mikroorganisme (Pelczar, 2006).

Pentingnya pengendalian mikroorganisme dapat dirangkum sebagai berikut:
1.      Mencegah penyebaran penyakit.
2.      Membasmi mikroorganisme pada inang yang terinfeksi.
3.      Mencegah pembusukkan dan perusakan bahan oleh mikroorganisme (Pelczar, 2006).

Mikroorganisme dapat disingkirkan, dihambat, atau dibunuh dengan cara atau proses fisik atau bahan kimia, tersedia berbagai bentuk teknik dan sarana yang bekerja membuat berbagai macam cara yang berbeda – beda dab masing – masing mempunyai keterbatasab sendiri – sendiri di dalam penerapan praktisnya. Suatu saran afisik dapat diartikan sebagai keadaan atau sifat fisik yang menyebabkan suatu perubahan. Beberapa contoh secara fisik ialah suhu, tekanan, radiasi dan penyaringan. Suatu proses fisik ialah suatu prosedur yang mengakibatkan perubahan, misalnya sterilisasi, pembakaran, dan sanitasi. Suatu bahan kimia ialah suatu substansi (padat, cair atau gas) yang dicirikan oleh komposisi molekuler yang pasti dan menyebabkan terjadinya reaksi, contoh – contohnya ialah senyawa – senyawa fenolik, alkohol, klor, dan etilen oksida (Pelczar, 2006).

2.2             Antiseptik, Antibiotik dan Desinfektan.

Zat – zat yang menghambat pembiakan secara bakteri dengan tiada membunuhnya disebut zat antiseptik atau zat bakteriostatik. Zat yang dapat membunuh bakteri disebut disenfektan, germisida atau bakterisida. Ada disenfektan yang membunuh bakteri dengan tidak merusaknya sama sekali, tetapi zat – zat kimia seperti basa dan asam organic menyebabkan hancurnya bakteri dan mungkin terjadi kehancuran ini akibat dari suatu hidrolisis. Kerusakan bakteri pada umumnya dibagi atas 3 golongan yaitu oksidasi, koagulasi atau penggumpalan protein, depresi dan ketegangan permukaan                         (Dwidjoseputro, 2005).

Pada umumnya bakteri yang muda kurang daya tahannya terhadap disenfektan dari pada bakteri yang tua. Faktor – faktor yang mempengaruhi daya disenfektan antara lain pekat encernya kosentrasi, kenaikan temperatur menambah daya disenfektan, medium juga dapat menawarkan disenfektan. Susu, plasma darah dan zat – zat lain yang serupa protein sering melindungi bakteri terhadap pengaruh disenfektan tertentu (Dwidjoseputro, 2005).

Beberapa disenfektan dan antiseptik, zat – zat yang dapat membunuh  atau menghambat pertumbuhan bakteri dapat dibagi atas gram – gram logam, fenol dan senyawa -  senyawa lain yang sejenis, formal dehida , alkohol, yodium klor dan persenyawaan klor, zat warna , detergen , sulfona muda, dan antibiotik (Dwidjoseputro, 2005).

Menurut Waksman, antibiotik adalah zat – zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme, dan zat – zat itu dalam jumlah yang sedikit pun mempunyai daya penghambat kegiatan mikroorganisme yang lain. Antibiotik yang pertama dikenal adalah penisilin, suatu zat yang dihasilkan oleh jamur Penicilium Sp.. Penisilin ditemukan oleh Flerning pada tahun 1929, namun baru sejak tahun 1943 antibiotik ini banyak digunakan sebagai pembunuh bakteri. Antibiotik yang efektif bagi banyak spesies bakteri dikatakan mempunyai spektrum luas, sebaliknya antibiotik yang hanya efektif untuk spesies tertentu mempunyai spectrum yang sempit. Sebelum suatu antibiotik digunakan untuk keperluan pengobatan, maka perlulah terlebih dahulu antibiotik diuji efeknya terhadap spesies bakteri tertentu. Sesuai dengan keperluan, maka suatu antibiotik dapat diberikan kepada seorang pasien dengan jalan penyuntikan dapat dilakukan dengan intra moskular (Dwidjoseputro, 2005).

Berdasarkan luas aktifitasnya antibiotika dapat digolongkan atas zat – zat dengan aktifitas sempit dan zat – zat dengan aktifitas luas, adapun penggolongan antibiotika adalah sebagai berikut golongan penisilin, golongan sefalosparin, golongan aminoglikosida, golongan chlorampenicol, golongan tetrasidin, golongan makrosida, golongan quinolon (Waluyo, 2004).

Antibiotika merupakan suatu senyawa yang sebagai obat dari suatu penyakit yang menimbulkan adanya peradangan atau pembengkakan. Jika seseorang terkena sakit panas atau influenza atau penyakit peradangan lainnya. Pada umumnya para dokter menyertakan dalam salah satu resepnya adalah obat yang mengandung zat antibiotika. Di dalam mikrobiologi antibotik dipakai sebagai uji untuk mengetahui kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme (Dwidjoseputro, 2005).

2.3             Macam – macam Desinfektan dan Antiseptik

Beberapa Disinfektan dan Antiseptik:
a.              Logam-logam Berat
Logam berat berfungsi sebagai antimikroba oleh karena dapat mempresipitasikan enzim – enzim atau protein esensial dalam sel. Logam-logam berat yang umum dipakai adalah Hg, Ag, As, Zr dan Cu. Daya antimikroba dari logam berat, dimana pada konsentrasi yang kecil saja dapat membunuh mikroba dinamakan daya oligodinamik. Tetapi garam dari logam berat ini mudah merusak kulit, merusak alat – alat yang terbuat dari logam, dan harganya mahal (Dwidjoseputro, 2005).
b.             Fenol dan Senvawa-senyawa Sejenis
Fenol (asam karbol) untuk pertama kalinya dipergunakan Lister di dalam ruang bedah sebagai germisida, untuk mencegah timbulnya infeksi pasca bedah. Pada konsentrasi yang rendah (2 – 4%), daya bunuhnya disebabkan karena fenol mempresipitasikan protein secara aktif, dan selain itu juga merusak membran sel dengan cara menurunkan tegangan permukaannya. Fenol merupakan standar pembanding untuk menentukan aktivitas atau khasiat suatu disinfektan. Kresol (kreolin) lebih baik khasiatnya dari pada fenol. Lisol adalah disinfektan yang berupa campuran sabun dengan kresol, lisol lebih banyak digunakan daripada desinfektan lainnya. Karbol adalah nama lain dari fenol. Seringkali orang mencampurkan baubauan yang sedap, sehingga disinfektan menjadi lebih menarik (Dwidjoseputro, 2005).
c.              Alkohol
Alkohol merupakan zat yang paling efektif dan dapat diandalkan untuk sterilisasi dan disinfeksi. Alkohol mendenaturasikan protein dengan jalan dehidrasi, dan juga merupakan pelarut lemak. Oleh karena itu, membran sel sel akan rusak, dan enzim - enzim akan dinonaktifkan oleh alkohol. Etanol murni kurang daya bunuhnya terhadap mikroba Jika dicampur dengan air murni, efeknya menjadi lebih baik Alkohol 50 – 70% banyak dipergunakan sebagian disinfektan (Dwidjoseputro, 2005).
Ada 3 jenis alkohol yang dipergunakan sebagai disinfektan, yaitu metanol, etanol, dan isopropanol. Menurut ketentuan, semakin tinggi berat molekulnya, semakin meningkat pula daya disinfektannya. Oleh karena itu, diantara ketiga jenis alkohol tersebut isopropil alkohol adalah yang paling banyak digunakan. Yang banyak dipergunakan dalam praktek adaiah larutan alkohol 70 – 80% dalam air. Konsentrasi di atas 90% atau dibawah 50% biasanya kurang efektif kecuali untuk isopropil alkohol yang masih tetap efektif sampai konsentrasi 99%. Waktu yang diperlukan untuk membunuh sel-sel vegetatif cukup 10 menit, tetapi untuk spora tidak (Dwidjoseputro, 2005).
d.        Aldehid
Cara bekerjanya aldehid ialah dengan cara membunuh sel mikroba dengan mendenaturasikan protein. Larutan formaldehid (CH2O) 20% dalam 65 – 70% alkohol merupakan cairan pensteril yang sangat baik apabila alat – alat direndam selama 18 jam. Akan tetapi karena meninggalkan residu, maka alat-alat tersebut harus dibilas dulu sebelum dipakai. Senyawa lain aldehid, yakni glutaraldehid merupakan solusi seefektif formaldehid, terutama bila pH-nya 7,5 atau lebih. Stafilokokus dan Iain-lain sel vegetatif akan dimatikan dalam waktu 5 menit, Mycobacterium tuberculosis dan virus dalam waktu 10 menit, sedangkan untuk membunuh spora diperlukan 3 – 12 jam. Senyawa tersebut bersifat nontoksik dan tidak iritatif bagi manusia (Dwidjoseputro, 2005).
e.              Yodium
Larutan yodium, baik dalam air maupun dalam alkohol bersifat sangat antiseptik dan telah lama dipakai sejak lama sebagai antiseptik kulit sebelum proses pembedahan (Dwidjoseputro, 2005).

Penemuan zat antibiotika terus berkembang, sehingga diperlukan pengujian secara berkala zat antibiotika tentang kemampuan dan aktivitasnya dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang menyebabkan peradangan dengan pengujian – pengujian tersebut dapat dianalisis dosis ataupun ambang batas dari suatu zat antibiotika yang diperlukan pada suatu penyakit (Dwidjoseputro, 2005).

Banyak zat kimia dapat menghambat atau mematikan mikroorganisme. Berbagai substansi tersebut menunjukkan efek anti mikrobialnya dalam berbagai cara dan terhadap berbagai macam mikroorganisme. Efeknya terhadap permukaan benda atau bahkan juga berbeda – beda, ada yang serasi dan ada yang bersifat merusak. Karena variabel – variabel lain, maka perlu sekali diketahui terlebih dahulu perilaku suatu bahan kimia sebelum digunakan untuk penerapan praktis tertentu (Dwidjoseputro, 2005).

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN


3.1             Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 16 Mei 2013 pada pukul 15.00 – 17.00 WITA di Laboratorium Rekayasa Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Mulawarman Samarinda. Kemudian pengamatan hasil percobaan di laksanakan pada hari Jumat tanggal 17 Mei 2013 pada pukul 16.30 – 17.30 WITA di Laboratorium Rekayasa Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Mulawarman Samarinda.

3.2             Alat dan Bahan

3.2.1       Alat

1.      Tabung Reaksi
2.      Rak Tabung Reaksi
3.      Cawan Petri
4.      Spatula
5.      Mortar
6.      Botol Semprot
7.      Sprayer
8.      Pinset
9.      Beaker Glass
10. Lampu Bunsen
11. Inkubator
12. Sarung Tangan
13. Penggaris
14. Alat Tulis
15. Kalkulator

3.2.2       Bahan

1.      Wipol
2.      Rinso Cair
3.      Amoxicillin
4.      Listerine
5.      Kertas Cakram
6.      Kertas Label
7.      Korek Api
8.      Media PCA
9.      Biakan Bakteri
10.  Cotton Bud
11.  Alkohol
12.  Aquadest
13.  Aluminium Foil

3.3             Cara Kerja

1.      Dicuci tangan dan disterilkan menggunakan alkohol.
2.      Disiapkan alat dan bahan yang diggunakan.
3.      Difiksasi cawan petri yang berisi media PCA dan mulut tabung reaksi.
4.      Diambil bakteri menggunakan cotton bud dan diswapkan pada media PCA.
5.      Difiksasi pinset, kemudian diambil kertas cakram.
6.      Dicelupkan pada rinso cair kemudian diletakkan pada media PCA.
7.      Difiksasi pinset, kemudian diambil kertas cakram.
8.      Dicelupkan pada listerine kemudian diletakkan pada media PCA.
9.      Difiksasi pinset, kemudian diambil kertas cakram.
10.  Dicelupkan pada wipol kemudian diletakkan pada media PCA.
11.  Difiksasi pinset, kemudian diambil kertas cakram.
12.  Dicelupkan pada larutan amoxicillin kemudian diletakkan pada media PCA.
13.  Diberi label untuk memberi tanda pada surfaktan, desinfektan, antibiotic, dan antiseptik.
14.  Diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1             Hasil Pengamatan

Tabel Pengamatan Peralatan dan Sterilisasi
    No.
Gambar
Identfikasi
1.

 









Keterangan kuadran:
  1. Surfaktan: Rinso cair
  2. Antiseptik: Listerine
  3. Desinfektan: Wipol
  4. Antibiotik: Amoxicillin

Keterangan Gambar:
  1. Cawan petri
  2. Zona bening
  3. Media PCA
  4. Bakteri


4.2             Perhitungan
4.2.1       Surfaktan
Dik      : D1 = 2,5 cm
              D2 = 1,8 cm
              D3 = 1,5 cm
              D4 = 2,3 cm
              Diameter kertas cakram = 0,6 cm
Dit       : Indeks daya hambat?


Jawab  : Diameter Zona Bening =  
                                                   = 
                                                  =  2,025 cm

            Indeks daya hambat =
                                             = 
                                             = 2,375

4.2.2       Antiseptik
Dik      : D1 = 0,6 cm
              D2 = 0,6 cm
              D3 = 0,6 cm
              D4 = 0,6 cm
              Diameter kertas cakram = 0,6 cm
Dit       : Indeks daya hambat?
Jawab  : Diameter Zona Bening =  
                                        = 
                                        =  0,6 cm

              Indeks daya hambat =  
                                               = 
                                               = 0

4.2.3       Desinfektan
Dik             : D1 = 0,6 cm
                     D2 = 0,6 cm
                     D3 = 0,6 cm
                     D4 = 0,6 cm
                     Diameter kertas cakram = 0,6 cm
Dit                : Indeks daya hambat?
Jawab           : Diameter Zona Bening =  
                                                                         = 
                                                                         =  0,6  cm

                            Indeks daya hambat =  
                                                              = 
                                                              = 0

4.2.4       Antibiotik
Dik             : D1 = 1,8 cm
                     D2 = 1,5 cm
                     D3 = 0,8 cm
                     D4 = 1 cm
                     Diameter kertas cakram = 0,6 cm
Dit              : Indeks daya hambat?
Jawab         : Diameter Zona Bening =  
                                                          = 
                                                          =  1,025  cm

                   Indeks daya hambat =  
                                                                = 
                                                                = 0,7083

4.3             Pembahasan

Antibiotik adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia dalam organisme khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri. Penggunaan antbiotik khususnya berkaitan dengan pengobatan penyakit infeksi, meskipun dalam bioteknologi dan rekayasa genetika juga digunakan sebagai alat seleksi terhadap mutan atau transforman. Antibiotik bekerja seperti peptida dengan menekan atau memutus suatu mata rantai metabolisme, hanya saja targetnya adalah bakteri. Antibiotik dijuluki “peluru ajaib”, obat yang membidik penyakit tanpa melukai tuannya. Antibiotik tidak efektif menangani infeksi akibat virus, jamur, atau nonbakteri lainnya, dan setiap antibiotik sangat beragam keefektifannya dalam melawan berbagai jenis bakteri.  Ada antibiotik yang membidik bakteri gram positif atau gram negatif, ada pula yang spektrumnya lebih luas. Keefektifannya juga bergantung padda lokasi infeksi dan kemampuan antibiotik mencapai lokasi tersebut.

Manfaat antibiotik sangat besar, sehingga terus dikembangkan hingga saat ini. Antibiotik digunakan dalam berbagai bidang, misalnya saj dibidang pertanian, kesehatan, bioteknologi, dan masih banyak lagi bidang lain yang menggunakan antibiotik. Secara umum antibiotik digunakan untuk menekan perkembangan suatu jenis bakteri. Jadi, jika ada penyakit yang disebabkan oleh virus, tidak dapat menggunakan antibiotik.

Desinfektan adalah bahan kimia yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan virus, juga untuk membunuh dan menurunkan jumlah mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya. Desinfektan digunakan untuk membunuh mikroorganisme pada benda mati. Desinfektan adalah cara membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dengan bahan kimia atau secara fisik, hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi dengan jaln membunuh mikroorganisme patogen. Desinfektan dilakukan apabila sterilisasi sudah tidak mungkin dikerjakan, meliputi: penghancuran dan pemusnahan mikroorganisme patogen yang ada tanpa tindakan khusus untuk mencegah kembalinya mikroorganisme tersebut.
Desinfektan dikatakan ideal, jika:
1.      Bekerja dengan cepat untuk menginaktivasi mikroorganisme pada suhu kamar.
2.      Aktivitasnya tidak dipengaruhi oleh bahan organik, pH, temperatur, dan kelembaban.
3.      Tidak toksik pada hewan dan manusia.
4.      Tidak bersifat korosif.
5.      Bersifat biodegradable atau mudah diurai.
6.      Larutan stabil.
7.      Aktivitas berspektrum luas.
8.      Tidak meninggalkan noda.

Cara kerja desinfektan dalam mematikan atau menghambat pertumbuhan mikrooranisme berbeda – beda, antara lain dengan merusak dinding sel, mengubah permeabilitas sel, mengubah molekul protein dan asam amino yang memiliki mikroorganisme, menghambat kerja enzim, menghambat simbiosis asam nukleat dan protein, serta metabolik. Desinfektan digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada benda – benda mati seperti meja, lantai, dan lain – lain. Desinfektan sangat penting bagi rumah sakit dan klinik. Desinfektan akan membantu mencegah infeksi terhadap pasien yang berasal dari peralatan maupun dari hal medis yang ada dirumah sakit dan juga membantu mencegah tertularnya tenaga medis oleh penyakit pasien.

Antiseptik adalah agen kimia yang mencegah, memperlambat atau menghentikan pertumbuhan mikroorganisme (kuman) pada permukaan liar tubuh dan membantu mencegah infeksi. Beberapa antiseptik mampu membunuh kuman (bakteriosida), sedangakan yang lainnya hanya mencegah atau menghambat pertumbuhan mereka (bakterostatik). Antiseptik berbeda dengan antibiotik, yang menghancurkan kuman di dalam tubuh, dan dari desinfektan, yag menghancurkan kuman pada benda mati.

Antiseptik terutama digunakan untuk mencegah dan mengobati infeksi pada luka. Sediaan antiseptik dapat digunakan untuk mengobati luka, memar, luka iris, luka lecet dan luka bakar ringan. Penerapan antiseptik pada luka mungkin perlu diikuti tindakan lain seperti pembersihan dan penutupan luka dengan pembalut agar tetap bersih dan terjaga.

Surfaktan adalah senyawa kimia yang jika terdapat pada konsentrasi adalah senyawa kimia yang jika terdapat pada konsentrasi rendah dalam sistem, mempunyai sifat teradsorpsi pada permukaan antar muka pada sistem tersebut, yang molekul-molekulnya mempunyai dua ujung yang berbeda intraksinya dengan air, yaitu ujung kepala yang suka terhadap air dan ekor yang tidak suka dengan air.

Surfaktan dapat dibedakan menjadi dua golongan besar, yaitu:
1.      Larutan dalam minyak, misal senyawa polar berantai panjang, fluorokarbon, dan silikon.
2.      Larutan dalam air, missal anion, kation, nonion, dan atmosfer. Bisa digunakan zat pembasah, pembusa, pengemulsi zat inti busa, detergen, flotasi, dan pencegah korosi.

Adapun fungsi dari surfaktan, yaitu:
1.      Sebagai detergen
2.      Sebagai emulgator
3.      Sebvagai pembasah
4.      Sebagai fooming dan antifooming
5.      Menurunkan tegangan permukaan
6.      Meningkatkan kelarutan suatu zat

Adapun factor-faktor yang mempengaruhi zona hambat, yaitu:
1.      Kekeruhan suspense bakteri. Kurang keruh, zona hambat lebih besar. Lebih keruh, zona hambat makin sempit.
2.      Waktu pengeringan atau penyerapan suspensi bakteri kedalam Moellerhiton Agar. Tidak boleh lebh dari batas waktu yang dibolehkan, karena dapat mempersempit diameter zona hambatan.
3.   Tempratur inkubasi. Untuk memperoleh pertumbuhan yang optimal, inkunbasi dilakukan pada 25, kadang-kadang ada bakteri yang kurang subur pertumbuhannya.
4.      Waktu inkubasi. Hamper semua cara menggunakan waktu inkubasi 16-18 jam. Kurang dari 16 jam pertu,buhan bakteri kurang sempurna sehingga zat hambatan semakin sempit.
5.      Tebalnya agar. Ketebalan agar sekitar 4 mm. kurang dari itu difusi obat lebih cepat, lebih dari itu difusi obat menjadi lambat.
6.      Jarak antara disc obat. Yang dianjurkan minimal 15 mm, untuk menhindari terjadinya zona hambatan yang tumpang tindih.
7.      Bahan yang digunakan. Bisa antibiotik, antiseptik, desinfektan, atau surfaktan.

Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini , yaitu rinso cair baha dari surfaktan, wipol bahan dari desinfektan, amoxicillin bahan dari antibiotic, dan listerin bahan dari antiseptik. Rinso cair adalah salah satu jenis detergen. Detergen adalah zat pengurang tekanan permukaan atau zat pembasah yang terutama digunakan untuk membersihkan permukaan benda. Salah satu contohnya dalah sabun. Tetapi sabun tidak bekerja dengan baikdalam air sadah,karena itu kini telah dikembangkan bahan pembersih baru yang lebih efesien yang disebut surfaktan atau detergen sintesis. Zat tersebut tidak membentuk endapan dalam air alkalin ataupun asam, serta tidak bereaksi dengan mineral yang terdapat dalam air sadah dan membentuk endapan. Sabun biasanya tidak banyak khasiatnya zat pembunuh bakteri tetapi jika dicampur dengan heksaklorofen daya bunuhnya menjadi besar sekali. Sejak lama obat pencuci yang mengendung ion detergen banyak digunakn sebagi pengganti sabun. Detergen tidak hanya bersifat hekerlostatik, melainka juga merupakan bakterisida. Terutama bateri bersifat gram positif. Detergen merupakan senyawa organik, yaitu karena strukturnya dapat diberikan dengan air dengan molekul-molekul orgamik non-polar. Molekul detergen mempunyai ujung hidrofilik yang dapat bercampur dengan air. Oleh karenanya molekul detergen akan menempel pada permukaan bahan  organik dengan ujung hidrofiliknya mengarah ke air. Detergen mungkin bermuatan listrik (ionik), mungkin pula tidak ionik. Detergen yang ionik biasanya tidak merupakan desinfektan yang baik dalam beberapa hal dapat menyokong pertumbuhan kuman dan jamur. Dari detergen ionik, maka yang bermuatan negatif biasanya lemah sifat bakterisidanya terutama terhadap bakteri Staphylococcus dan beberapa virus, meskipun tidak efektif terhadap spora.

Wipol adalah karbol yang mengandung pire action yang efektif membunuh kuman. Wipol biasanya digunakan untuk membersihkan lantai atau toilet. Bahan aktif pire oil 2,5% yang terkandung di dalamnya dapat efektif membunuh kuman dan menghilangkan bau tak sedap.

Amoxicillin adalah antibiotik yang termasuk ke dalam golongan penisilin. Obat ini tidak membunuh bakteri secara langsung tetapi dengan cara mencegah bakteri membentuk semacam lapisan yang melekat disekujur tubuh. Lapisan ini bagi bakteri berfungsi sangat vital yaitu untuk melindungi bakteri dari perubahan lingkungan dan menjaga agar tubuh bakteri agar tidak tercerai berai. Bakteri tidak akan mampu bertahan hidup tanpa adanya lapisan ini. Beberapa penyakit yang bisa diobati oleh amoxicillin adalah infeksi pada telinga tengah, radang tensil, radang tenggorokan, radang pada laring, bronchitis, infeksi saluran kemih, dan infeksi pada kulit.

Listerin adalah produk obat kumur. Listerin mengandung zat-zat, yaitu zat pelarut air, unsure pelarut utama yang paling utama, aolkohol adalah zat yang sangat kuat dan berbahaya jika tanpa campuran. Lalu ada agen antibakteri, agen antibakteri berfungsi membunuh bakteri – bakteri yang ada. Jadi, listerin dapat membunuh kuman – kuman yang ada di dalam mulut.

Adapun istilah bakterisida dan bakteriostatis. Bakteriosida adalah suatu bahan yang mematikan bentuk – bentuk bakteri. Sedangkan bakteriostatis adalah suatu keadaan yang menghambat pertmbuhan bakteri.

Pada percobaaan ini, indeks daya hambatnya berbeda – beda. Pada surfaktan, didapat diameter zona bening satu sepanjang 2,5 cm, diameter zona bening dua sepanjang 1,8 cm, diameter zona bening tiga adalah 1,5 cm, dan diameter zona bening empat adalah 2.3 cm, dengan diameter kertas cakram 0,6 cm sehingga didapat diameter diameter zona bening rata – rata 2,025 cm dan didapat indeks daya hambatnya 2,375. Dan pada antiseptik didapat diameter zona bening satu hingga empat sama, yaitu 0,6 cm, dengan diameter kertas cakram 0,6 cm sehingga didapat rata – rata diameter zona beningnya adalah 0,6 cm dan didapat indeks daya hambatnya 0,6 cm, sehingga indeks daya hambatnya nol (0). Begitu juga dengan desinfektan, didapat diameter zona bening satu hingga empat sama, yaitu 0,6 cm dengan diameter kertas cakram 0,6 cm. Sehingga didapa iindeks daya hambatnya nol (0). Sedangkan pada antibiotik, didapat diameter zona bening satu hingga empat berturut – turut adalah 0,8 cm; 1,5 cm; 0,8 cm; dan 1 cm dengaan diameter kertas cakram 0,6 cm, sehingga didapat rata – rrata diamete zona beningnya 1,025 cm dan didapat indeks daya hambatnya 0,7083.

Dalam percobaan ini dihasilkan indeks daya hambat yang berbeda – beda, hal ini disebabkan karena ona beningnya, semakin besar zona bening yang terbentuk, berarti semakin kat daya hambat suatu bahan terhadap bakteri. Dan itu artinya desinfektan dan antseptik memiliki daya hambat yang lemah dibanding surfaktan dan antibiotik, dan surfaktan memiliki  daya hambat terhadap bakte yang paling kuat, karena indeks daya hambatnya paling besar.

Adapun faktor kesalahan yang terjadi, yaitu pada saat mencelupkan kertas cakram pada bahan - bahan yang dan kemudian diambil dengan pinset tidak dilakukan dengan hati – hati sehingga kertas cakram terjatuh.





BAB V
PENUTUP


5.1             Kesimpulan

a.       Berdasarkan percobaan, didapat indeks daya hambat pada surfaktan ialah 2,375, pada antiseptik 0, pada desinfektan 0, dan pada antibiotik 0,7083. Dan itu artinya surfaktan memiliki daya hambat yang paling kuat.
b.      Adapun faktor – faktor yang mempengaruhi diameter zona bening adalah kekeruhan suspensi bakteri, waktu pengeringan, tempreatur inkubasi, tebalnya agar – agar, jarak antara disc obat dan bahan penghambat bakteri yang digunakan.
c.       Adapun perbedaan dari bakterisida dan bakteriostatis adalah bakterisida ialah bahan yang mematikan bentuk – bentuk bakteri, sedangkan bakteriostatis adalah suatu keadaaan yang menghambat pertumbuhan bakteri.

5.2             Saran

Sebaiknya dalam percobaan ini bahan yang digunakan lebih bervariasi, misalkan untuk surfaktan digunakan dua jenis bahan, untuk membandingkan apakah daya hambatnya sama atau berbeda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan Mikrobiologi - Biakan Murni

Laporan Mikrobiologi - Perhitungan Jumlah Mikroba Dengan Metode TPC

Laporan Mikrobiologi - Metode MPN (Most Probable Number)